Kamis, 09 Mei 2013

Sebuah Perjalanan Hati ke Tanah Haram

Tanah Haram disini adalah Madinah dan Makkah, dapat dimaknai sebagai tanah yang
dimuliakan oleh Allah Swt, tanah dimana diharamkan bagi kita untuk berperang. Perjalanan ini sudah saya dan kakak idam-idamkan dari 2 tahun yang lalu, tapi baru bisa kesampaian di awal tahun 2013. Bagi saya yang hanya pegawai biasa, tentu saja biaya merupakan faktor terbesar yang menentukan keberangkatan saya, tapi memang benar jika Allah berkehendak segala sesuatu pasti terjadi. Alhamdulillah, dengan tabungan yang ngepas banget saya bisa berangkat. Dikarenakan saya perempuan berumur dibawah 40tahun, pastinya harus mengikuti paket umroh dari travel agent  untuk bisa berangkat, sangat berbeda dengan pengalaman traveling saya sebelumnya yang tanpa travel agent, well karena perjalanan ini sangat spesial pastinya caranya juga berbeda. 

Berhubung dana yang pas-pasan, cukup ribet dan membutuhkan proses agak lama sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan ke salah satu travel agent, butuh beberapa kali datang ke pameran Haji dan Umroh. 
Proses saya waktu itu, kurang lebih seperti berikut ini :
1. Datang ke pameran Haji dan Umroh. Ambil semua brosur yang ditawarkan
2. Keterbatasan dana membuat saya memutuskan untuk mengambil paket 9 hari
3. Karena keterbatasan cuti pula, kami mencari tanggal yang terdapat long weekend. Jadi bisa cuti hanya 4 hari kerja.
4. Sortir paket-paket umroh yang berangkat di tanggal yang diinginkan. 
5. Karena kami ingin nyicip  maskapai asing. Sortir paket umroh yang berangkat menggunakan maskapai asing seperti emirates, saudi airlines, royal brunei.
6. Nah, brosur ditangan sudah semakin sedikit dengan kriteria-kriteria tadi, kemudian kami pilih lah paket dengan harga yang termurah.

Akhirnya kami memilih paket umroh 9 hari dengan menggunakan pesawat Royal Brunei dan
awalnya hanya transit di Brunei Darussalam. Jarak penginapan selama di madinah dan makkah ke Masjid tidak terlalu kami  perhatikan, toh merasa masih muda masih kuat jalan. But trust me, distance does a matter. Dan persiapan akhir sebelum berangkat adalah mempersiapkan hati saya, niat untuk melakukan ibadah umroh hanya demi Allah SWT semata, Lillahita'ala, berusaha menjaga hati dan perilaku agar tidak melenceng dari niat awal.

Seminggu sebelum keberangkatan kami diinfokan bahwa ada sedikit perubahan rute, yang awalnya naik pesawat Surabaya-Bandar Seri Begawan kemudian langsung lanjut ke Jeddah ternyata masi harus transit lagi di Dubai. Awalnya senang ya bisa mampir Dubai walau hanya transit di bandara tapi ternyata perjalanan itu sungguh melelahkan. Total kurang lebih butuh 36 jam sampai akhirnya Alhamdulillah tiba di Madinah, Rute keberangkatan yang kami tempuh, berikut ini :
1. Surabaya-Bandar Seri Begawan by Royal Brunei kurang lebih 2 jam. Kemudian transit 10 jam dipergunakan untuk city tour
2. Bandar Seri Begawan-Dubai by Royal Brunei kurang lebih 8 jam.
3. Dubai-Jeddah by Fly Dubai 3 jam
4. Jeddah-Madinah by Bus 5 jam
Long way to middle east
Akhirnya setelah perjalanan panjang dan menguras tenaga (*halah), kami bisa memasuki Haram Boundary kota Madinah Al Munawarah. Di kota ini selama 3 hari beribadah di Masjid Nabawi, Masjid yang didalamnya terdapat Makam Nabi Muhammad SAW dan Rawda. Kota ini hawanya cukup dingin, apalagi kalo malam, anginnya yang semriwing cukup bikin saya sakit perut dan kulit kering selama 3 hari. Disini saya baru menyadari betapa penting menjaga stamina karena kegiatan yang cukup padat. Salah satu tempat yang memiliki keistimewaan untuk berdoa terletak di Masjid Nabawi, yaitu Rawda. 
Masjid Nabawi
Rawda artinya taman, letaknya berada diantara rumah Rasul (sekarang menjadi makam Rasulullah SAW) sampai mimbar masjid. Disitulah, konon Nabi biasa membacakan wahyu dan mengajarkan tentang Islam didepan para sahabat. Nabi pernah bersabda "Antara rumahku dengan mimbarku adalah Rawda (taman) diantara taman-taman surga". Tidak heran jika umat Islam dari seluruh penjuru berebut untuk berdoa ditempat tersebut karena diyakini tempat yang mustajab untuk berdoa. Rawda sekarang berupa ruangan dengan luas kurang lebih 144 meter persegi yang ditandai dengan pilar-pilar tinggi dengan kaligrafi di tiap tiangnya dan beralaskan karpet motif berwarna hijau muda. Untuk masuk ke area ini, khususnya wanita dibatasi waktunya hanya di waktu dhuha, setelah sholat Dhuhur, dan setelah sholat Isya. Dan tentu saja harus mengantri, cara mengantrinya pun unik, antrian berdasarkan suku. Bagi Melayu biasanya dapat antrian paling akhir. Tapi bagaimanapun tetap harus sabar. Setelah berhasil masuk ke area Rawda, orang-orang berebut tempat untuk melakukan sholat sunnah (mutlaq, tahajud dll) dan tentu saja berdoa. Tapi harus selalu diingat, menyakiti sesama umat itu haram jadi hindari dorong-dorongan demi mendapat tempat. Selain fokus ibadah di masjid Nabawi kami juga dibawa ziarah ke tempat-tempat bersejarah. 
Bagian dalam Masjid Nabawi

Payung2 di pelataran masjid nabawi, otomatis terbuka usai sholat subuh
Lanjut ke Kota berikutnya tempat dimana kami menunaikan ibadah umroh yaitu Makkah Al-Mukaromah. Tidak seperti Madinah, cuaca disini lebih hangat, panas lebih tepatnya tapi tampaknya cuaca beginilah yang cocok dengan saya. Di sekitar Masjidil Haram sedang dilakukan pembangunan besar-besaran, mulai dari hotel sampai ke area masjid tidak luput dibangun. Ini menyebabkan udara penuh dengan debu untunglah saya membawa persediaan masker yang cukup banyak untuk melindungi dari debu. Jarak hotel dan Masjid kurang lebih 500-700 meter, disini kekuatan kaki saya diuji. Seperti yang saya bilang sebelumnya, ternyata distance does a matter. Susah  bagi saya untuk mendeskripsikan perasaan saya kala pertama melihat Ka'bah secara langsung, perasaan yang lebih hebat daripada naek roller coaster tercuram di dunia sambil melihat gunung Fuji dari kursi coaster saat ke Jepang. Yang pasti membuat saya tidak henti-hentinya mengucap Tasbih. Berbeda dengan Masjid Nabawi, Masjidil Haram tidak pernah sepi mau itu siang atau tengah malam. Disini kami melakukan ibadah Umroh yaitu diawali dengan mengambil miqot  kemudian Thowaf dan Sa'i kemudian diakhiri dengan Tahallul. Di Masjid ini banyak tempat yang diyakini mustajab untuk berdoa diantaranya :

1. Multazam : adalah pintu Ka'bah, “Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tidak ada satu pun doa seorang hamba di Multazam kecuali akan dikabulkan.” (HR. Ahmad)
Add caption
2. Hijir Ismail : Hijr Ismail adalah bangunan terbuka yang berbentuk ½ lingkaran. Disebut Hijr Ismail, karena dalam sejarahnya Nabi Ibrahim pernah membuat satu tempat berteduh yang terbuat dari pohon arok di samping Ka’bah yang ditempati oleh Ismail dan ibunya Siti Hajjar. Jika ingin shalat di dalam Ka’bah, cukup shalatlah di dalam Hijr Ismail. Diriwayatkan dari Abdul Hamid bin Jubair dari bibinya Shafiyyah binti Syaibah, ia berkata, “Aisyah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Bolehkah aku masuk ke Baitullah?”, beliau Bersabda: Masuklah ke dalam hijir, karena ia masih bagian dari Baitullah.” 

3. Maqom Ibrahim : merupakan batu dari Surga dimana Nabi Ibrahim menjejakkan kakinya untuk membangun Ka'bah. Sebagaimana yang di sebutkan di Surat Al-Baqarah ayat 125 Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” Diriwayatkan tidak dianjurkan untuk mencium atau mengusap Maqam Ibrahim, namun Islam mengajarkan agar umatnya menghormati Maqam Ibrahim itu sebagai bukti dan tanda kebesaran Allah SWT yang ada di bumi ini. Disunahkan sholat sunah dua rakaat setelah selesai thawaf di belakang Maqam Ibrahim ini. 

4. Rukun Yamani : merupakan sudut yang menghadap ke Yaman. “Ada 70 malaikat yang memegang rukun Yamani. Barangsiapa berdoa, ‘Ya Allah, berilah aku ampunan dan kesehatan di dalam agama, dunia, dan akhirat. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jauhkanlah diri kami dari siksa api neraka’ maka 70 malaikat tersebut akan berkata, ‘Amin, kabulkanlah doanya’.” (HR. Ibnu Majah). Pada saat Thowaf, Rasulullah saw. ketika berada diantara dua rukun ini yaitu Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad, beliau membaca doa yang biasa disebut doa sapu jagat  dan disunnahkan untuk menyalami atau melambaikan tangan ketika melewatinya .

4. Bukit Safa-Marwah : 2 Bukit yang terletak di Masjidil Haram dan jarak diataranya , dan merupakan wajib dalam umroh untuk melakukan Sa'i, 7 kali berjalan bolak balik diantara 2 bukit tersebut. Jarak antara kedua bukit tersebut kurang lebih 400 meter. Di kedua bukit itulah Siti hajar berlari bolak balik dengan harapan untuk mendapatkan air untuk anaknya Ismail

5. Selain itu, disunnahkan pula untuk mencium Hajar Aswad. Diriwayatkan Rasulullah SAW ketika umroh menyentuh dan mencium Hajar Aswad. Kini sangat susah sekali untuk menjangkaunya disamping karena ramai tapi juga terdapat beberapa "preman" berbadan besar yang menyediakan jasa untuk membantu agar bisa mencium Hajar Aswad dan berhati-hatilah karena sesudah membantu, orang-orang tersebut akan meminta uang dengan nominal yang tidak sedikit. Yang perlu diingat, mencium Hajar Aswad adalah sunnah sedangkan menyakiti sesama adalah haram, so be wise dan tetep kalem yaaa meskipun ga berhasil mencium Hajar Aswad
Masjidil Haram tampak depan

Masjid Terapung

Jabal Rahmah


Perjalanan ke 2 tanah Haram ini, lebih dari sekedar perjalanan biasa, sebuah perjalanan hati yang mengajarkan saya untuk selalu ikhlas, sabar, dan tawakkal. InsyaAllah, saya akan kembali ke tanah haram, tanah suci suatu hari nanti, AAMIIN.
Haram Boundary

2 komentar:

  1. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.. Thanks for sharing em :)

    BalasHapus
  2. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.. Thanks for sharing em :)

    BalasHapus