Selasa, 16 April 2013

(Bukan) Pecinta Alam sejati

Meskipun uda wara wiri traveling kesana kemari, saya belum pernah yang namanya  ke
Bromo
Gunung Bromo yang jar
aknya hanya sekitar 110 km dari Surabaya, alasannya sih simpel belum ada kesempatan, kalau pun ada kesempatan ga ada temen yang mau ikutan karena kebanyakan uda pernah ke Bromo. Tapi akhirnya, setelah obrolan basa basi dengan beberapa teman saat lagi otw untuk mencoba Paralayang di Batu akhirnya kami sepakat untuk ke Bromo saat liburan akhir tahun 2012.

Long weekend menjelang taun baru, saya dan teman-teman sepakat untuk ke Bromo. Setelah sempat tertunda akhirnya berangkat juga. Berangkat tanpa booking penginapan sebelumnya di situasi holiday season berarti kami harus rela mendapatkan penginapan seharga Rp 250 ribu per kamar isi 2 bed dengan kondisi seadanya dan harga sewa jeep untuk keliling esok paginya dengan harga Rp 750ribu, 2 kali lipat dari harga normal. 

Kamar mungil untuk ber 5
Pukul 3 pagi dengan kondisi menggigil kedinginan kami sudah siap untuk berangkat ke Penanjakan. Lokasi Penanjakan untuk melihat sunrise ada 2, dan kami dibawa ke Penanjakan 2. Yang ternyata letaknya harus dijangkau dengan jalan kaki kurang lebih 1 km dan menanjak, di tambah lagi ternyata view sunrise dari spot ini  gak oke. Di tanjakan pertama tidak biasanya saya seperti kehabisan nafas dan langsung berhenti, untunglah salah satu teman membawa coklat yang ternyata sangat efektif untuk menaikkan gula dalam darah, gak sampai semenit badan langsung terasa segar. Tapi kondisi ini tidak berlangsung lama, kombinasi dari udara yang sangat dingin dan jalan kaki membuat perut saya yang mules. Raut muka saya langsung berubah pucat menahan sakit perut, akhirnya memutuskan untuk naik kuda dengan membayar 50 rb agar lebih cepat sampai diatas dengan harapan ada toilet diatas sana.
Ternyata ekspektasi saya salah, sesampai diatas yang saya temui hanya sekelompok anak muda duduk-duduk santai menunggu sunrise, tidak ada toilet ditengah kegelapan. Hati dan perut makin gak tenang, pemandangan Gunung Bromo yang sangat indah menyembul di tengah kegelapan terasa biasa saja dikarenakan kondisi perut yang gak biasa. Teman-teman saya makin asik berfoto dengan background sunrise terakhir di tahun 2012 itu. Akhirnya begitu  kondisi uda cukup terang, teman saya yang baik hati mau menemani saya berjalan kembali ke bawah dengan harapan ada toilet. Dan ternyata benarrr.....ada toilet menyempil tidak jauh dari spot penanjakan itu sepertinya toilet ini baru beroperasi kalau hari sudah terang saja, dengan membayar 5ribu rupiah saja senyum saya bisa kembali lebar Tapi kemudian teman saya nyeletuk "harusnya kamu bayar 20ribu...krn toilet yang sebelah uda 4 kali ganti org sedangkan kamu gak keluar2" Upss :D

Usai dari kawasan penanjakan lanjut ke kawah gunung Bromo. Lagi-lagi kekuatan kaki diuji, entah kenapa rasanya disini saya manja banget males jalan jauh padahal kalau inget waktu malam-malam di sudut kota Tokyo saya kuat berjalan sampai 2km lebih tanpa mengeluh. Saya akhirnya memutuskan untuk tidak naik ke Kawah dan hanya berjalan-jalan di bawahnya.


Lanjut jeep kami menuju ke padang savana atau yang biasa disebut bukit teletubies (berpelukaaannn :D) dan kemudian yang terakhir kawasan hamparan pasir yang disebut pasir berbisik yang merupakan tempat syuting film pasir berbisik.



Bukit teletubbies


pasir berbisik


Moral of the story adalah sepertinya saya belum siap traveling terpisah jauh dari toilet :D dan untuk naik gunung yang sesungguhnya, secara fisik dan mental belum siap, salut lah dengan para pendaki gunung. Anyway, sekali lagi ini salah satu trip yang menyenangkan dan cukup berkesan..Good friends for a good trip ^^
Sunrise yang tak terlihat mataharinya


2 komentar:

  1. oh jadi gitu gaya pub nya. haha

    BalasHapus
  2. turun pasaran loh moy, membuka aib pas perjalanan ahahahahah.. bawa kantong plastik and stock tissue basah yang buanyak for next trip..just in case wakakakakak

    BalasHapus